Kondisi Sponge terkait Eutrofikasi di Kepulauan Spermonde Kota Makassar?
Andry Mas'ud
Dalam jurnal penelitian Hooper dan Van soest di tahun yang sama yaitu 2002, terdapat sekitar 10.000 spesies sponge di dunia dan di
Indonesia sendiri diperkirakan sebanyak 850 spesies yang umumnya dijumpai
di perairan tropik dan subtropik. Sponge atau porifera adalah hewan dari
phylum porifera yang merupakan salah satu hewan primitif yang hidup menetap dan
bersifat filter feeder, Sponge dapat memompa air keluar melalui tubuhnya dan
menyaring partikel sebagai bahan makanan. Secara
ekologi, sponge adalah salah satu penyusun pada ekosistem pesisir dan laut,
dimana pertumbuhannya cenderung berasosiasi dengan ekosistem terumbu karang dan padang lamun, namun juga dapat terjadi sebaliknya, Namun perubahan iklim dan kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kehidupan dari sponge, diantaranya peningkatan suhu permukaan laut, peningkatan eutrofikasi, perubahan
struktur trofik, dan peningkatan bio-erosi. Sehingga
kondisi komposisi dan kepadatan sponge pada wilayah Kepulauan Spermonde perlu diketahui
dengan melakukan identifikasi keberadaannya.
Untuk mengidentifikasi sponge, beberapa hal sangat perlu diketahui diantaranya
kondisi oseanografi fisika dan kimia perairan. Nutrien yang menjadi tolak ukur pada
terjadinya eutrofikasi adalah nitrat dan fosfat, yang juga sangat terkait
dengan beberapa parameter oseanografi lainnya, sehingga wilayah dengan kondisi
perairan yang eutrofik akan mengalami degradasi yang berimbas kepada pertumbuhan dari sponge yang berinteraksi dengan ekosistem lainnya dalam suatu perairan. Untuk itu
diperlukan berbagai referensi dari berbagai jurnal maupun informasi lainnya tentang kondisi sponge.
Penelitian tentang zonasi eutrofikasi diperairan Kepulauan Spermonde Kota Makassar yang dilakukan oleh Faisal di tahun 2011 tertuang pada gambar peta zonasi berdasarkan pembagian zona yaitu zona dalam, zona tengah dan zona luar. Dimana proses eutrofikasi dapat mencapai jarak 2,5 – 6 km dari garis
pantai.
Perlu diketahui bahwa tingkat
kesuburan perairan laut sangat terkait dengan tingginya konsenterasi nutrient
dalam suatu perairan. Nutrien meningkat pada lokasi yang dekat dengan pemukiman dan
lahan pertanian yang membawa masukan bahan organik.
Salah satu akibat dari eutrofikasi adalah terjadinya peningkatan bahan organik oleh ledakan
fitoplankton, yaitu fenomena populasi fitoplankton tumbuh secara cepat dan
dalam jumlah yang sangat besar. Sehingga dapat mengakibatkan laju pertumbuhan alga yang menyebabkan kematian
sponge itu sendiri karena tertutup alga. Selain itu, akibat dari pengayaan unsur hara olek aktifitas makro alga yang meningkat maka dapat menghambat proses
fotosintesa karena kekeruhan perairan. Seperti yang diungkapkan oleh Duckworth et
al pada penelitiannya pada tahun 1997, disimpulkan bahwa kurangnya sinar ultra violet pada suatu perairan,
maka distribusi kepadatan dan komposisi jenis sponge terganggu dan
mengakibatkan terjadinya stress.
Dari
beberapa asumsi tersebut diatas maka timbul pertanyaan, salah satunya bagaimana mekanisme hubungan antara kondisi distribusi jenis sponge
dengan lingkungan terkait dengan adanya zonasi eutrofikasi oleh Faizal yang saat ini yang belum diketahui di Perairan Kepulauan Spermonde Kota Makassar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar