Rabu, 04 Desember 2013

Sponge Bag. Pertama


Komposisi Jenis dan Kepadatan Sponge (Porifera: Demospongiae)
Di Kepulauan Spermonde Kota Makassar

Abdul Haris 1), Shinta Werorilangi 1), Sulaiman Gosalam 1) dan Andry Mas’ud 2)

1) Dosen Jurusan Ilmu Kelautan, FIKP,  UNHAS
2)  Mahasiswa Program Magister Ilmu Perikanan UNHAS


ABSTRAK

     Sponge merupakan salah satu penyusun pada ekosistem pesisir dan laut, terutama pada ekosistem terumbu karang dan padang lamun. Perubahan iklim dan kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kehidupan dari sponge. Maka dilakukan penelitian untuk mengetahui sebaran komposisi dan kepadatan sponge dengan menggunakan metode transek belt (transek kuadran) dengan ukuran 5x5 m, kemudian menghitung jumlah dari setiap jenis sponge yang terdapat dalam transek. Lokasi penelitian terbagi atas 3 (tiga) zona eutrofikasi yang menunjukkan kondisi eutrofikasi yang berbeda berbeda. Sebanyak 49 spesies yang teridentifikasi berasal dari 16 famili 8 ordo. Komposisi dan Kepadatan sponge pada zona dalam sebanyak 11 family dengan kepadatan 0,96 ind/m2,, lebih rendah dibandingkan dengan komposisi dan kepadatan pada zona tengah dan zona luar. Hal tersebut terkait dengan adanya perbedaan kondisi lingkungan dari ketiga zona yang terbagi berdasarkan kondisi eutrofikasi tersebut.

Kata kunci : Sponge, Komposisi Jenis, Kepadatan, Spermonde
ABSTRACT
      Sponge is one of the component on the coastal and marine ecosystems, especially coral reefs and seagrass beds. Climate change and environmental conditions can affect the life of the sponge. The study is conducted  to determine the distribution of the composition and density of sponge using belt transects (transect quadrant) with a size of 5x5 m, then count the number of each type of sponge contained in the transect. Study site divided into three (3) zones indicating  different conditions of eutrophication. A total of 49 species were identified from 16 families of 8 orders. Composition and density of the sponge in inner zone as many as 11 family  with a density of 0.96 ind/m2,  and lower compared to the composition and density in the middle zone and outer zone. This is related to the difference in environmental conditions of the three zones based on eutrophication conditions.
Keywords : Sponge, Species Composition, Density, Spermonde

Sabtu, 23 November 2013

EUTROFIKASI (SPONGE) Bag. Pertama

Kondisi Sponge terkait Eutrofikasi di Kepulauan Spermonde Kota Makassar?

Andry Mas'ud

 
 Dalam jurnal penelitian Hooper dan Van soest di tahun yang sama yaitu 2002, terdapat sekitar 10.000 spesies sponge di dunia dan di Indonesia sendiri diperkirakan sebanyak 850 spesies yang umumnya dijumpai di perairan tropik dan subtropik. Sponge atau porifera adalah hewan dari phylum porifera yang merupakan salah satu hewan primitif yang hidup menetap dan bersifat filter feeder, Sponge dapat memompa air keluar melalui tubuhnya dan menyaring partikel sebagai bahan makanan. Secara ekologi, sponge adalah salah satu penyusun pada ekosistem pesisir dan laut, dimana pertumbuhannya cenderung berasosiasi dengan ekosistem terumbu karang dan padang lamun, namun juga dapat terjadi sebaliknya, Namun perubahan iklim dan kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kehidupan dari sponge, diantaranya peningkatan suhu permukaan laut, peningkatan eutrofikasi, perubahan struktur trofik, dan peningkatan bio-erosi. Sehingga kondisi komposisi dan kepadatan sponge pada wilayah Kepulauan Spermonde perlu diketahui dengan melakukan identifikasi keberadaannya.
  Untuk mengidentifikasi sponge, beberapa hal sangat perlu diketahui diantaranya kondisi oseanografi fisika dan kimia perairan. Nutrien yang menjadi tolak ukur pada terjadinya eutrofikasi adalah nitrat dan fosfat, yang juga sangat terkait dengan beberapa parameter oseanografi lainnya, sehingga wilayah dengan kondisi perairan yang eutrofik akan mengalami degradasi yang berimbas kepada pertumbuhan dari sponge yang berinteraksi dengan ekosistem lainnya dalam suatu perairan. Untuk itu diperlukan berbagai referensi dari berbagai jurnal maupun informasi lainnya tentang kondisi sponge. 
Penelitian tentang zonasi eutrofikasi diperairan Kepulauan Spermonde Kota Makassar yang dilakukan oleh Faisal di tahun 2011  tertuang pada gambar peta zonasi berdasarkan pembagian zona yaitu zona dalam, zona tengah dan zona luar. Dimana proses eutrofikasi dapat mencapai jarak 2,5 – 6 km dari garis pantai.
 

Perlu diketahui bahwa tingkat kesuburan perairan laut sangat terkait dengan tingginya konsenterasi nutrient dalam suatu perairan. Nutrien meningkat pada lokasi yang dekat dengan pemukiman dan lahan pertanian yang membawa masukan bahan organik. Salah satu akibat dari eutrofikasi adalah terjadinya peningkatan bahan organik oleh ledakan fitoplankton, yaitu fenomena populasi fitoplankton tumbuh secara cepat dan dalam jumlah yang sangat besar. Sehingga dapat mengakibatkan laju pertumbuhan alga yang menyebabkan kematian sponge itu sendiri karena tertutup alga. Selain itu, akibat dari pengayaan unsur hara olek aktifitas makro alga yang meningkat maka dapat menghambat proses fotosintesa karena kekeruhan perairan. Seperti yang diungkapkan oleh Duckworth et al pada penelitiannya pada tahun 1997, disimpulkan bahwa kurangnya sinar ultra violet pada suatu perairan, maka distribusi kepadatan dan komposisi jenis sponge terganggu dan mengakibatkan terjadinya stress.
Dari beberapa asumsi tersebut diatas maka timbul pertanyaan, salah satunya bagaimana mekanisme hubungan antara kondisi distribusi jenis sponge dengan lingkungan terkait dengan adanya zonasi eutrofikasi oleh Faizal yang saat ini yang belum diketahui di Perairan Kepulauan Spermonde Kota Makassar.