Sabtu, 23 November 2013

EUTROFIKASI (SPONGE) Bag. Pertama

Kondisi Sponge terkait Eutrofikasi di Kepulauan Spermonde Kota Makassar?

Andry Mas'ud

 
 Dalam jurnal penelitian Hooper dan Van soest di tahun yang sama yaitu 2002, terdapat sekitar 10.000 spesies sponge di dunia dan di Indonesia sendiri diperkirakan sebanyak 850 spesies yang umumnya dijumpai di perairan tropik dan subtropik. Sponge atau porifera adalah hewan dari phylum porifera yang merupakan salah satu hewan primitif yang hidup menetap dan bersifat filter feeder, Sponge dapat memompa air keluar melalui tubuhnya dan menyaring partikel sebagai bahan makanan. Secara ekologi, sponge adalah salah satu penyusun pada ekosistem pesisir dan laut, dimana pertumbuhannya cenderung berasosiasi dengan ekosistem terumbu karang dan padang lamun, namun juga dapat terjadi sebaliknya, Namun perubahan iklim dan kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kehidupan dari sponge, diantaranya peningkatan suhu permukaan laut, peningkatan eutrofikasi, perubahan struktur trofik, dan peningkatan bio-erosi. Sehingga kondisi komposisi dan kepadatan sponge pada wilayah Kepulauan Spermonde perlu diketahui dengan melakukan identifikasi keberadaannya.
  Untuk mengidentifikasi sponge, beberapa hal sangat perlu diketahui diantaranya kondisi oseanografi fisika dan kimia perairan. Nutrien yang menjadi tolak ukur pada terjadinya eutrofikasi adalah nitrat dan fosfat, yang juga sangat terkait dengan beberapa parameter oseanografi lainnya, sehingga wilayah dengan kondisi perairan yang eutrofik akan mengalami degradasi yang berimbas kepada pertumbuhan dari sponge yang berinteraksi dengan ekosistem lainnya dalam suatu perairan. Untuk itu diperlukan berbagai referensi dari berbagai jurnal maupun informasi lainnya tentang kondisi sponge. 
Penelitian tentang zonasi eutrofikasi diperairan Kepulauan Spermonde Kota Makassar yang dilakukan oleh Faisal di tahun 2011  tertuang pada gambar peta zonasi berdasarkan pembagian zona yaitu zona dalam, zona tengah dan zona luar. Dimana proses eutrofikasi dapat mencapai jarak 2,5 – 6 km dari garis pantai.
 

Perlu diketahui bahwa tingkat kesuburan perairan laut sangat terkait dengan tingginya konsenterasi nutrient dalam suatu perairan. Nutrien meningkat pada lokasi yang dekat dengan pemukiman dan lahan pertanian yang membawa masukan bahan organik. Salah satu akibat dari eutrofikasi adalah terjadinya peningkatan bahan organik oleh ledakan fitoplankton, yaitu fenomena populasi fitoplankton tumbuh secara cepat dan dalam jumlah yang sangat besar. Sehingga dapat mengakibatkan laju pertumbuhan alga yang menyebabkan kematian sponge itu sendiri karena tertutup alga. Selain itu, akibat dari pengayaan unsur hara olek aktifitas makro alga yang meningkat maka dapat menghambat proses fotosintesa karena kekeruhan perairan. Seperti yang diungkapkan oleh Duckworth et al pada penelitiannya pada tahun 1997, disimpulkan bahwa kurangnya sinar ultra violet pada suatu perairan, maka distribusi kepadatan dan komposisi jenis sponge terganggu dan mengakibatkan terjadinya stress.
Dari beberapa asumsi tersebut diatas maka timbul pertanyaan, salah satunya bagaimana mekanisme hubungan antara kondisi distribusi jenis sponge dengan lingkungan terkait dengan adanya zonasi eutrofikasi oleh Faizal yang saat ini yang belum diketahui di Perairan Kepulauan Spermonde Kota Makassar.